Jumat, 17 Februari 2012


Godaan Kecil

Saat semua telah hadir dalam angan dan mimpi memberi secercah harapan untuk setiap langkahnya. Harapan yang besar untuk sebuah masa depan cerah, mimpi yang indah untuk dapat membangun jembatan kebahagiaan.

Apakah semua itu mampu diwujudkan saat duri-duri kehidupan menghadang, saat kekuatan yang telah di bangun tergoyahkan hanya gara-gara sebuah godaan kecil yang berujung pada kebobrokan akal nurani dalam kehidupan.

Hingga akhirnya ketidakberdayaan itu telah menghancurkan angan dan mimpi indah yang telah menjadi suatu harapan besar untuk terus melangkah dalam hidup ini.

Semuanya pun kembali dalam belenggu kegelapan tanpa setitik cahaya yang terpancarkan dari apa yang telah diharapkan, kini semuanya sirna dalam sekejap mata saja.

Batu Di Sungai

Aku kini hanya seperti batu di sungai yang hanya bisa diam saat di terpa derasnya air yang mengalir, aku tak mampu berbuat apapun agar dapat beranjak dari suasana ini, bahkan untuk mengangakat kaki akupun tak sanggup, begitu pedih hingga tubuh terlunglai lemah diatas duri-duri cinta.

Kisah yang selama ini terjadi merupakan kekuatan dalam hidupku untuk tetap melangkah kedepan kini telah sirna, aku hanya bisa diam dan menunggu datangnya keajaiban agar semua kembali.

Entah apa yang kini aku alami sungguh tak mampu aku menjelaskan, semua harapan, cinta, kasih sayang, mimpi yang indah dan angan-anganku selama ini hanya akan menjadi sebuah cerita tanpa mampu lagi untuk diwujudkan.

Apa yang kurasaakan saat ini membuat dada ini sesak, pikiranku melayang-layang hingga apa yang harus nya tidak aku lakukan tapi aku lakukan, dan apa yang seharusnya aku lakukan aku tidak lakukan, lalu hati ini rasanya ingin menjerit menghentak kan suara yang teramat sakit, kepedihan yang terasa telah membawa butiran-butiran air mata menetes namun tak seorangpun mengerti.

Apa  aku terlalu egois ? ataukah aku orang yang tak berpengertian ? atau aku orang jahat yang selalu saja menyakiti dan membuat sengsara orang lain ? kemana harus kucari jawaban itu agar rasa sakit ini mengerti kapan dia akan berhenti menggrogoti jiwa raga dan hatiku yang telah kosong dari kasih dan sayangmu.

Keluh Kesah Hidup

Aku yang hina ini menjalani hidup dalam keluh kesah yang dapat menguncang dunia, membahana bagaikan deru angin yang menggoyangkan pepohonan.

Dalam setiap detiknya aku selalu berfikir bagaimana aku bisa lepas dari belenggu kejahatan dunia yang selalu menghantuiku.

Mengiris hati membuatku merasa bahwa hidupku sudah tak lama lagi karena sudah renta, untuk mampu menerima semuanya.

Jeritan tangis menggelegar memecahkan keheningan hati yang sedang lara, hingga dapat melelehkan butiran-butiran kristal yang keluar dari mata.

Melululantahkan semua pikiran jernih merusak jiwa yang telah kosong dalam kesucian yang seharusnya.

Hatiku yang telah hancur ini bertambah parah seketika saat kekecewaanku terhadap sesuatu yang tak kuinginkan tercapai, sungguh lengkap sudah semuanya.

Cerita ini akan berakhir dengan sendirinya saat raga tak lagi menyatu dengan jiwa, saat roh ini dicabut lalu dibawa kealamnya hingga hari akhir menunggu.

Saat roh dicabut hingga raga dan jiwa ini tak lagi menyatu hingga akhirnya tak ada lagi yang dapat dirasakan, dingin udara yang menusuk tulang, kasarnya jalan yang dilalui, indahnya pemandangan sore hari, dan nikmatnya kasih sayang orang tua, yang dirasakan hanyalah nikmatnya sakaratul maut yang telah menjemput hingga hela nafas terakhir berhembus.

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar